Barusan dapat artikel bagus, yang menulis adalah mas dani Permana salah satu anggota dari milis iqro. Semoga re-post artikel ini bisa bermanfaat dan membuat kita bisa lebih berhati-hati dalam berkata kepada istri kita, baik dalam keadaan biasa, bercanda, atau dalam keadaan marah…

Zhihar
Secara bahasa, zhihar berarti punggung. Sedang menurut istilah syariat, zhihar adalah ungkapan suami terhadap istrinya, ‘Bagiku kamu seperti punggung ibuku’, dengan maksud dia hendak mengharamkan istrinya bagi dirinya.
Dalam Islam, men-zhihar istrinya adalah perkara yang diharamkan. Seorang suami yang mengeluarkan ucapan itu tidak boleh lagi mencampuri istrinya dan tidak pula bermesraan dengannya melalui bagian anggota tubuhnya yang mana saja sebelum dia menebusnya dengan membayar kafarah sebagaimana ketentuan agama.
Dalam Alquran surat Al Mujadalah[58] ayat 3-4 Allah berfirman, “Dan orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib atasnya memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami sitri itu bercampur…Barangsiapa yang tidak mendapatkan budak maka wajib atasnya berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum kedianya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa, wajib atasnya memberi makan enam puluh orang miskin…”
Orang yang men-zhihar istrinya dalam jangka waktu sehari atau sebulan, misalnya dia berkata, “Bagiku engkau seperti punggung ibuku selama sebulan” dan dia menepati sumpahnya, maka dia tidak terkena denda. Namun manakala dia mencampuri istrinya sebelum berakhirnya waktu yang telah ditetapkannya, maka dia wajib membayar kafarah zhihar.
Allah mengkatagorikan zhihar sebagai perkataan yang munkar dan dusta. Allah juga mengingkari orang yang men-zhihar istrinya, sebagaimana firmannya, “Orang yang men-zhihar istrinya di antara kamu (menganggap istrinya sebagai ibunya), padahal tiadalah istri mereka itu ibunya. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS Al Mujadilah [58]: 2).
Kaum Muslim sebaiknya berhati-hati dengan kalimat yang menjurus ke arah zhihar. Termasuk bila mengucapkannya di saat marah atau dalam pertengkaran antara suami-istri.
Kebanyakan ulama fikih berpendapat, segala perbuatan yang dilakukan di saat marah, termasuk talak dan zhihar, harus dipertanggungjawabkan. mereka berhujjah pada sebuah hadis yang menceritakan tentang Khaulah binti Tha’labah, isteri Aus bin Ash-Shamit. Suami Khaulah telah marah lalu dia men-zhihar dirinya. Khaulah lalu pergi menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan memberitahukan perkaranya sambil berkata, “Dia tidak bermaksud untuk mentalakku.”
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak tahu melainkan engkau sebenarnya telah menjadi haram ke atasnya.”
Di dalam hadis ini Rasulullah telah menjadikan zhihar sebagai talak, dan talak itu jatuh walaupun diucapkan dalam keadaan marah. Akan tetapi jika seseorang itu marah sehingga dia hilang akal, talak itu tidak berlaku. Dalam keadaan ini dia menyerupai orang gila, maka berlaku hukum ‘tidak jatuh talak yang lahir dari seorang gila’.