Belajar dari Pak Jalal

Oleh : Muhammad Amir Rosyidi

Didalam serial televisi, Para Pencari Tuhan jilid 4, dikisahkan ada seorang pengusaha yang sangat kaya dan dermawan yang bernama jalaludin atau biasa dipanggil pak Jalal. Dikisahkan di PPT 4 ini pak jalal sebelumnya sudah mempunyai perusahaan yang cukup besar, tetapi ternyata pak jalal ditipu oleh direkturnya, sehingga perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar dan bisa dipastikan bangkrut. Begitu banyak masalah menimpa perusahaannya tersebut, dari mulai hutang yang belum terbayar sampai dengan gaji serta pesangon karyawan yang belum dibayar. Hal ini setelah dihitung-hitung oleh pak jalal berakibat seluruh aset yang dipunyai beliau akan habis dan beliau akan jatuh miskin. Akhirnya setelah minta nasehat kesana-sini pak jalal memantapkan hati untuk tetap memproses seluruh tanggungan hutangnya dan membayar seluruh gaji dan pesangon karyawannya dengan harta yang dia miliki walaupun dia nantinya harus jadi miskin. Pernah terjadi perbincangan antara dia dan istrinya, istrinya mensarankan untuk dicicil, tapi beliau berpendapat tidak ingin menunda-nunda hutang dan ingin mengikuti ajaran agama bukan mengikuti kebiasaan pada umumnya yang ada di masyarakat.

Dari cerita diatas setidaknya ada 2 hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Pertama adalah keteguhan pak jalal untuk melunasi semua hutang dan membayar gaji dan pesangon karyawannya. Melunasi hutang adalah hal yang wajib bagi seorang muslim yang berhutang, karena disitu terdapat hak-hak dari pemberi hutang ataupun hak-hak dari orang-orang di sekitar pemberi hutang yang harus kita penuhi. Oleh karena itu Islam sangat memperhatikan masalah hutang ini, bahkan ketika kita akan berhaji atau ketika kita akan membayar zakat tetapi di satu sisi kita mempunyai hutang yang harus segera dibayar maka kita harus mendahulukan membayar hutang tersebut daripada berzakat ataupun menunaikan haji.

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya.”. Dalam hadits ini disebutkan bahwa ada seorang lelaki  berkata, “Wahai  Rasulullah,  apakah  engkau  melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran  dalam  membela  agama  Allah  maka dosa-dosaku  akan  diampuni  semuanya  oleh  Allah  SWT?  Maka Rasulullah saw bersabda, “Ya, jika engkau  terbunuh  di  medan pertempuran  dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri.”  Kemudian  Rasulullah saw  bersabda,  “Apa  yang  engkau  katakan  tadi?” Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya,  dan  Rasulullah  saw  yang mulia   mengulangi  jawabannya  sambil  menambahkan,  “Kecuali utang,  karena  sesungguhnya  Jibril  a.s.  berkata   kepadaku tentang itu.“. Dari hadits diatas kita bisa melihat bagaimana kedudukan hutang itu didalam Islam, sampai-sampai walaupun kita dalam keadaan mati syahid yang semua dosa diampuni, tetapi khusus hutang tetap akan diperhitungkan dan dipertanggungjawabkan.

Sama halnya dengan membayar hutang, membayar upah atau gaji terhadap orang yang kita pekerjakan sangat penting. Ketika kita tidak membayar upah atau terlambat membayar upah berarti kita sudah berhutang terhadap orang tersebut dan kita telah mendzoliminya. Rosulullah SAW bersabda “Berikanlah olehmu upah orang bayaran sebelum keringatnya kering”. Didalam hadits ini rosulullah memerintahkan kita untuk segera membayar upah orang yang kita pekerjakan sesegera mungkin, sampai diibaratkan sebelum keringatnya kering.

Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan tidak berbuat dzolim kepada orang lain seperti yang tertuaang dalam QS. Al Maidah ayat 8 berfirman : “…dan janganlah sekali kali kebencianmu kepada suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil . Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa…”. Dalam surat tersebut kepada kaum atau golongan yang kita benci saja kita tidak boleh berbuat dzolim apalagi kepada kaum/golongan yang tidak kita benci atau bahkan saudara kita.

Hikmah kedua yang bisa kita ambil dari cerita pak jalal adalah keteguhannya untuk melaksanakan perintah agama daripada mengikuti kebiasaan yang ada didalam masyarakat. Sudah menjadi hal biasa di dunia bisnis apabila kita berhutang, kita selalu membayar dengan cara menyicil bahkan terlambat bayarpun masih bisa diselesaikan secara politis, sehingga keterlambatan bayar-membayar hutang menjadi hal yang wajar dalam dunia bisnis. Tidak hanya masalah hutang-piutang, seringkali kita jumpai penyimpangan-penyimpangan didalam masalah pembayaran pajak ke negara, bahkan sampai praktek suap-menyuappun dihalalkan, na’udzubillahi min dzalik.

Allah SWT telah memberikan Islam sebagai petunjuk bagi kita semua, petunjuk mana yang baik dan yang bathil. Islam melalui Alquran dan Hadits memberikan petunjuk bagi kaum muslim bagaimana cara-cara yang benar dalam berkehidupan. Alquran dan Hadits tidak hanya memberi petunjuk dalam hal ritual ibadah saja, tetapi semua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara diatur didalamnya, seperti berniaga, perkawinan, berpolitik, hukum kenegaraan, bahkan sampai adab tidur atau adab mandipun diatur dalam Alquran ataupun Hadits.

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah”(QS Ali Imron : 112)

Rosulullah SAW bersabda : “Aku berwasiat pada kalian agar bertaqwa pada Allah subhanahu wata’ala, mendengarkan perintah dan taat meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak. Siapa pun di antara kalian yang masih hidup, niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Karena itu, berpegangteguhlah pada sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham. Dan hindarilah hal-hal yang baru, karena semua yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, hadis hasan shahih. Dinukil dari Kitab Arbain Nawawiyah karya Imam Nawawi, hadis ke-28)

Dari 2 hal diatas cukuplah bagi kita untuk selalu berpegang teguh kepada Alquran dan sunnah-sunnah rosul yang tertuang dalam hadits didalam kehidupan kita sehari-hari, bukan mengikuti apa yang menjadi kebiasaan yang ada di masyarakat kita yang kadang bertentangan dengan aturan Islam di Alquran ataupun hadits.