Renungan Akhir Ramadhan

Tak terasa tinggal beberapa hari lagi ramadhan tahun ini akan berakhir. Masih banyak hal yang kurasa masih belum bisa aku maksimalkan di ramadhan tahun ini, dari mulai mengaji dan mengkaji alquran, ibadah sholat, menghadiri majlis ilmu, i’tikaf, dan beberapa sunnah-sunnah rosul yang lain.

Masih teringat dulu ketika awal ramadhan aku hanya bertekad dengan man jadda wajada aku akan mencoba semangat dan bersungguh-sungguh untuk memperbaiki segala amalan dan ibadahku kepada Allah SWT. Aku hanya berpikir aku harus bisa, – walaupun kadang banyak orang mengatakan beribadah yang biasa aja yang penting ikhlas, tidak perlu terlalu diforsir dalam beribadah -, aku coba lakukan itu semua walaupun kadang aku merasa terpaksa melakukan tapi aku tetap harus lakukan. Man Jadda Wajada, aku harus bisa lebih baik!, aku harus bisa memperbaiki kesalahan-kesalahanku dalam beribadah di tahun-tahun sebelum ini, aku harus bisa total walaupun banyak tuntutan lain berada di depanku. Aku tidak ingin menjadi pecundang dalam ramadhan kali ini.

Tak terasa, hari demi hari aku lalui, malam demi malam aku jalani, entah kenapa aku merasakan kenikmatan tersendiri ketika melakukan itu semua, suatu hal tadinya aku terpaksa melakukan sepertinya berubah menjadi kenikmatan, rasanya hambar ketika dalam satu hari aku tidak melakukannya. Aku merasakan kenikmatan ketika aku mulai membaca ayat-ayatMu yang tertulis dalam Alquran (walaupun aku tidak tahu artinya), aku mulai merasakan kenikmatan ketika melakukan sholat sunnah-sholat sunnah, aku merasakan kenikmatan melakukan tadarus di malam-malam ramadhan, hati sedih rasanya ketika tidak bisa melakukan sholat taraweh di masjid, hati sedih ketika satu hari terlewat tanpa membaca AlQuran.

Masih terngiang tausiyah dari khatib sholat jumat yang memberikan peringatan tentang kebekuan hati yang disebabkan karena beberapa hal seperti mengaku beriman kepada Allah tapi tidak melakukan perintahnya dan menjauhi larangannya, mengaku pengikut Rasulullah SAW tapi tidak melaksanakan sunnah-sunnahnya, mengetahui kalau hidup ini hanya sebentar tapi tidak digunakan untuk beribadah kepada Allah, dan sering menghadiri takziah tapi tidak bisa mengambil ibrah didalamnya.

Masih terngiang lantunan surat Ar-Rahman yang dilantunkan sang khatib, fabiayyi Aala Irobbikumaa tukadzibaan, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tak terasa air mata ini meleleh dalam sholat, teringat betapa banyak nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepada hamba telah sering hamba dustakan. Mata ini masih sering digunakan untuk melihat yang engkau larang, telinga ini masih sering digunakan untuk mendengarkan suara-suara yang Engkau larang, mendengar dan menikmati gosip/ghibah, begitupun juga mulut ini masih sering hamba gunakan untuk bertutur kata yang tidak baik, bertutur kata yang tidak bermanfaat, bergosip dan kadang bercanda yang tidak pada tempatnya. Tidak hanya mata, telinga, dan mulut saja, anggota badan yang lain masih sering hamba gunakan untuk melakukan maksiat, masih sering bermalas-malasan dalam beribadah, malas melangkahkan kaki ke masjid, malas memegang kitabMu, dan yang lebih parah lagi kadang hati yang telah engkau beri kenikmatan berupa agama yang lurus, masih saja sering tertutupi dengan perasaan malas beribadah, masih sering tertutupi dengan ego merasa paling benar, masih tertutupi dengan perasaan sombong, iri dan riya’.

Ya Allah ya Rob, Ya Allah yang Maha pengampun, ampunilah segala kesalahan hamba di masa lalu, kekhilafan hamba di masa lalu, kebekuan hati hamba di masa lalu.

Ya Allah ya Rob, janganlah engkau cabut kenikmatan ini di bulan-bulan setelah ramadhan, berikan keistiqomahan dalam hati hamba untuk selalu bisa melakukan itu semua, merasakan kenikmatan-kenikmatannya, dan jadikan hati hamba hati yang penuh rasa syukur kepadaMu, kepada semua nikmatMu.

Ya Allah ya Rob jadikan bulan-bulan hamba selain bulan ramadhan menjadi bulan yang penuh keberkahan, pebuh kekusyukan, penuh petunjukdarimu seperti pada bulan Ramadhan kali ini, dan semoga engkau bisa mempertemukan hamba dengan bulan ramadhan di tahun berikutnya.

Aminnn…Aminnn…Ya Robbal ‘aalaminn
Jumat, 26 Agustus 2011
M. Amir Rosyidi