Sang Penyair dan sepatunya yang hilang

 

Pada saat berangkat kerja pagi ini, saya mendengar cerita yang cukup inspiratif di sebuah radio. Cerita itu mengisahkan seorang penyair dari negeri Iran pada waktu selesai sholat dan akan pergi meninggalkan masjid, dia menjumpai sepatunya sudah tidak ada di halaman masjid. Sang penyairpun menggerutu didalam hatinya, sambil mengumpat-umpat dia menyalahkan pencuri sepatu tersebut (maklum sepetu tersebut baru saja dibelinya). Sambil menggerutu, sang penyair tersebut kembali ke masjid dan bertanya kepada orang-orang yang ada di dalam masjid, siapa tahu diantara mereka ada yang melihat si pencuri sepatunya. Tiba-tiba datanglah seorang kakek-kakek di depan sang penyair dan menanyakan apakah ada yang bisa dia bantu. Ketika sang penyair melihat sang kakek tersebut, dang penyair takjub dan juga heran dengan wajah sang kakek yang sangat menampakkan kesabaran dan kesyukuran, padahal sang kakek tersebut tidak mempunyai kaki. Sang penyair langsung terdiam, dia merenungi apa yang telah dilakukannya tadi ketika kehilangan sepatunya. sang penyairpun langsung meminta maaf kepada Allah SWT, karena kurang bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada dia. Hanya karena kehilangan sepatu dia mengumpat-umpat, menggerutu, sedangkan sang kakek walaupun kehilangan dua kakinya tetapi di wajahnya tergambar kesyukuran dan kesabaran.

Dari cerita diatas, kitapun juga akan dibuat merenung….kadang dari kita sering mempermasalahkan permasalahan kecil yang ditimpakan ke kita, bahkan kadang kita sampai menyalahkan Allah, berburuk sangka kepada Allah. Padahal begitu banyak nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Coba kita renungi dan kita bandingkan nikmat-nikmat Allah SWT yang diberikan kepada kita dibandingkan dengan cobaan yang Allah berikan kepada kita? mana yang lebih banyak? Sangat jauh lebih banyak nikmat yang kita terima daripada cobaan yang kita terima, tapi kenapa kita seirng mempermasalahkan cobaan kita tadi sangat jarang kita bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita walaupun hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah.

Rasulullah SAW bersabda : “Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan. (HR. Tirmidzi)”

Tapi yang terjadi dengan kita kadang malah sebaliknya, untuk urusan dunia sangat jarang sekali kita bersyukur karena kita sering disibukkan dengan melihat yang lebih atau diatas kita. Ketika tetangga punya TV baru tak jarang dari kita iri dan kepingin juga punya TV baru, seorang teman beli HP baru, kitapun juga pengen beli HP baru.

Tapi ketika dalam urusan akhirat yang terjadi adalah sebaliknya, ketika kita diingatkan supaya sholat di masjid, kita sering mengucapkan “itu si A malah nggap pernah sholat, masih bagus aku mau sholat walaupun nggak ke masjid”, diingatkan untuk mengaji, dijawab “itu si A nggak bisa ngaji, alhamdulillah aku bisa ngaji”.dsbnya. Tapi ketika kita melihat ada temen kita yang lebih baik ibadahnya daripada kita, kita sering kali cuek, tidak mau menirunya, dengan dalih “ya belajar agama itu sedikit-demi sedikit, sekarang aku baru bisanya ini kok”, tanpa mau berbuat dan belajar lebih baik lagi di waktu-waktu selanjutnya.

“Demi Masa. Sesungguhnya manuasia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr 1-3)

Marilah kita perbaiki amal ibadah kita, keimanan kita, kesabaran kita, dan perbanyak bersyukur kepada Allah SWT sebelum matahari terbit dari barat ataupun sebelum nafas sampai di kerongkongan kita. Terakhir saya kutip syair lagu dari ustadz Anand semoga bisa menjadi perenungan kita semua :

“Ketika mentari terbit dari barat

Semua orang akan beriman

Tetapi imannya tidak akan bermanfaat

Kecuali telah beriman sebelumnya”

Semoga catatan kecil ini bisa bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita digolongkan menjadi orang beruntung bukan orang yang merugi dan semoga kita dimasukkan kedalam golongan hamba yang senantiasa bersyukur.

 

Yogyakarta, 27 September 2011

M. Amir Rosyidi