Memupuk Keteguhan dalam AgamaNya (Islam)

Dalam era digital dan penuh fitnah sekarang ini sepertinya umat muslim harus lebih berhati-hati. Banyak sekali hal-hal yang membuat kita secara tidak sengaja jatuh kedalam perangkap syaithon. Mereka (syaithon) meramu perangkap-perangkap itu dengan sangat baik sehingga kita tidak merasa sudah masuk kedalam perangkapnya. Bahkan ada dari perangkap-perangkap tersebut sampai membuat umat tergadaikan aqidahnya secara tidak sengaja, sehingga istilah “esok beriman sore kafir, malam beriman paginya kafir lagi” seperti menjadi suatu fenomena yang biasa. Ketika kita tengok firman Allah SWT dalam Alquran surat  Al A’raf ayat 16-17 dimana Iblis bersumpah akan selalu menyesatkan manusia dari berbagai arah harus menjadi perhatian kita bersama supaya kita tetap waspada.

Memupuk ketaqwaan kepada Allah SWT haruslah selalu dilakukan walaupun itu sangat berat. Ghirah untuk selalu bersegera mendekat kepada Allah itu harus terus terus ada dalam hati kita. Sikap hati-hati dalam menghadapi persoalan juga perlu dikedepankan. Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?”, Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Selain dengan berhati-hati dalam menghadapi setiap persoalan yang belum tahu hukumnya, ghirah untuk senantiasa menuntut ilmu agama -yang menurut para  ulama wajib bagi umat muslim- juga harus kita tanamkan di hati kita, karena hal ini yang sepertinya sudah mulai hilang dari umat ini. Mereka menganggap ilmu agama hanya untuk para ulama dan mereka disibukkan dengan mencari ilmu dunia -yang menurut para ulama ini hukumnya adalah fardhu khifayah- walaupun sampai harus mengeluarkan uang jutaan rupiah atau harus sampai ke luar negeri. Semua itu tidak salah karena umat islam yang kuat -baik dari sisi ilmu,materi atau fisik- lebih disukai daripada umat islam yang lemah, tetapi yang menjadi perhatian janganlah semua itu melalaikan kita untuk menuntut ilmu yang lebih wajib yaitu ilmu agama.

Setelah kita berpayah-payah dalam berjihad di jalan Allah dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya, terakhir yang harus senantiasa dilakukan adalah dengan berdoa. Doa adalah senjata umat mukmin, karena Allah senang terhadap hambaNya yang selalu berdoa kepadaNya, memohon dan mengadukan segala masalah kepadaNya. Banyak ayat Alquran dan hadits yang membahas tentang doa, diantaranya adalah sebagai berikut :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(QS. Al Baqarah : 186)

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah)

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Terkait doa tersebut, ada doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada kita supaya Allah SWT selalu melindungi kita dan menjaga hati kita untuk senantiasa teguh dalam agamaNya. Doa itu berbunyi :

“Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi ‘ala diinik” (HR.Tirmidzi dan  Ahmad), yang artinya “Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku diatas agamaMu”.

Atau juga bisa dengan doa :

“Allahumma mushorrifal quluub, shorrif quluubana ‘ala tho’atik.”(HR. Muslim), yang artinya “Ya Allah yang memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu”

Semoga Allah SWT selalu membimbing hati kita untuk bisa bersemangat dalam beribadah kepadaNya, menuntut ilmu agama, dan meneguhkan hati kita diatas agamaNya dan ketaatan kepadaNya. Aamiin…
Wallahu a’lam bisshowab

 

Yogyakarta, 22 April 2015
Muhammad Amir Rosyidi